
Kartografi Indonesia
Departemen Sosiologi Komputasional - Bandung Fe Institute --------------------------------------------------------------------------------- :sebuah web ringkas yang menunjukkan bagaimana peta berbicara tentang Indonesia, :sehingga analisis sosial kompleks itu menjadi asyik dan menyenangkan! --------------------------------------------------------------------------------- Depan - Topik Kartografi - IndoKarto - Pertanyaan & Jawaban - Link - Poster ---------------------------------------------------------------------------------
Gagasan dasarnya adalah memberikan outlook berdasarkan ilmu-ilmu kompleksitas dalam menjalani tahun yang baru, 2013. Menapaki masa depan tentunya akan lebih percaya diri jika dibarengi dengan kesadaran kesejarahan yang telah dilalui di tahun 2012. Namun outlook dalam bentuk buku yang padat uraian sepertinya tak tepat, apalagi dengan kesadaran bahwa kompleksitas persoalan yang dihadapi di masa yang akan datang bukannya lebih mudah; justru makin berat. Itulah sebabnya kita menuliskan outlook ini dalam bentuk hanya 18 halaman yang isinya kebanyakan adalah kartografi, pemetaan, baik sebagai geo-visualisasi maupun sebagai pemetaan persoalan dan berbagai fakta-fakta. Outlook ini pada sederhananya mengetengahkan gambaran umum, kira-kira bagaimanakah ilmu-ilmu kompleksitas melihat persoalandan fenomena sosial. Dengan kata lain, Outlook 2013 ini adalah sebuah sari pati dari berbagai riset kompleksitas yang telah dilakukan di Bandung Fe Institute sejak satu dekade yang lalu. Praktisnya, riset adalah pekerjaan tentang bagaimana meng-ekstraksi informasi dari sekian banyak data yang ada. Bandung Fe Institute telah menerbitkan buku berjudul “Solusi untuk Indonesia”. Buku tersebut berbicara tentang berbagai metodologi kerja dan bagaimana kira-kira keinsyafan akan kompleksitas sistem sosial menjadikan metodologi ilmiah memberikan makna bagi perspektif kita dalam melihat Indonesia. Kami menyarankan pembaca untuk membaca buku tersebut, karena boleh dibilang, lembaran-lembaran outlook ini merupakan ekstensi pemutakhiran dari apa yang dijelaskan di buku tersebut. Keluasan topik dan kajian kompleksitas terpampang dari multimensionalitas yang diketengahkan dalam lembar-lembar Outlook ini. Kita bicara dalam domain ekonomi, politik, antropologis, sosiologis, psikologis, bahkan budaya populer dengan dipersenjatai dengan metode ilmiah, kajian ekonofisika dan sosiofisika. Pada masa klasik dahulu, kepada kita diketengahkan konsep “Wawasan Nusantara”, sebagai cara pandang orang Indonesia dalam memandang dirinya sendiri. Kami merasa bahwa hal tersebut sangat relevan saat ini, karena sebagai bangsa yang merdeka, kita memang perlu mengenali siapa kita sendiri sebagai entitas kolektif ke-Indonesian-an, jangan hanya membeo pada definisi-definisi interpretatif mereka yang bahkan hanya sedikit “mengenal” kita, namun jubah-jubah akademia warisan abad pencerahan memaksa kita untuk mengikutinya. Outlook ini adalah upaya untuk memberi wawasan tentang Indonesia dari data-data Indonesia: sebuah cara pandang orang Indonesia dalam memandang negerinya sendiri menjelang hari-hari baru di sepanjang tahun 2013. Outlook sepantasnya memberikan gambaran tentang masa depan. Ia memberikan semacam sinyal-sinyal prediksi akan apa yang mungkin terjadi demi sebuah antisipasi. Namun kenyataan sistem kompleks adalah karakteristik ketidakpastiannya yang ineheren, yang seolah melarang kita melakukan prediksi. Di sini, kesadaran akan sistem kompleks tidak melihat “prediksi” sebagai “peramalan masa depan”. Prediksi harus dilihat sebagai kemampuan kita dalam mencerna berbagai informasi atas data-data yang berseliweran di depan kita, sehingga kita lebih siap menghadapi masa depan. Inilah yang diketengahkan oleh lembar-lembar outlook ini. Kita melihat berbagai pasar yang ada di Indonesia, mulai dari pasar modal, pasar tenaga kerja, pasar komoditas dan energi, pasar barang-barang konsumsi, pasar politik, hingga “pasar budaya”- mengingat Indonesia adalah panggung kontestasi diversitas budaya dan lanskap etnografi yang luar biasa tinggi keragamannya. Semua diarahkan memberikan pemahaman akan kondisi yang baru saja berlalu demi antisipasi di masa depan. Semoga lembaran-lembaran slide di bawah ini memberikan keriangan intelektual sebagaimana yang dialami oleh Tim Peneliti saat melakukan penelitian-penelitian yang disinggung. Karena kompleksitas dan ketakpastian masa depan bukanlah sesuatu untuk dihindari, melainkan untuk disambut dalam keriangan yang cendekia! Bandung, 30 Desember 2012 |
Antara satu lembar dengan lembar lain pada umumnya terasa kait-kaitannya satu sama lain. Tak ada satu persoalan dan fenomena sosial yang berdiri sendiri. Yang jelas memandang Indonesia 2013 kita mempelajari beberapa hal penting, antara lain: Pertama, sifat strategis ke-Indonesian-an kita bukan lagi hanya tercermin sebagai bentuk geografis belaka. Kenyataan bentuk negeri yang kepulauan, keberagaman etnis yang sangat tinggi, termasuk kekayaan alam yang ada di dalamnya merupakan ikhwal strategis yang memperkukuh posisi geo-informasi kita. Secara ekonomis kita perlu membenahi diri, tak hanya sekadar memperluas pasar (market diversification), tapi juga juga harus memperlengkapi diri dengan inovasi dan kreativitas demi memperbesar variasi dan keberagaman produk (product diversification) yang kita tawarkan untuk memberikan inspirasi bagi kemanusiaan dunia. Kedua, kegalauan ekonomi dan keuangan di belahan utara planet kita masih dan sedang dalam proses recovery yang memberikan kita kesempatan untuk tidak melakukan berbagai kesalahan yang sama dalam meniti kompleksitas dan ketakpastian pasar. Pasar modal hanyalah satu dari sekian banyak pasar yang ada dalam realm kehidupan kapitalisme modern. Sistem sosial kita perlu dibenahi, karena ia akan memperkuat sistem ekonomi dan keuangan kita. Ini perlu memperhatikan pasar tenaga kerja dan pasar ritel yang lebih akrab terhadap risiko (risk friendly) sehingga risiko dan pelajaran krisis bukanlah hal yang menakutkan lagi, namun justru mampu memperkuat basis kognitif dan intelektualitas kita Ketiga, keberagaman dapat menjadi kendala, jika kita meng-under-estimate kolektivitas dan kolaborasi di kalangan aktor-aktor sistem sosial. Bahkan platform cara berpolitik di Indonesia pun mesti dilihat sebagai sebuah “manajemen koalisi”. Keberagaman dapat menjadi kekuatan, karena kecenderungan masyarakat yang makin hari makin kolektif di era social media belakangan ini. Yang terkuat bukanlah yang paling banyak mengakuisisi dan menguasai aset, namun yang paling banyak bisa berbagi (sharing) aset. Sistem sosial harus dilihat sebagai satu “tubuh” dengan kecerdasan kolektif. Pemimpin adalah juga yang dipimpin. Keempat, konflik sosial yang memberikan tekanan (stressor) pada sistem sosial secara keseluruhan mesti dipandang tak melulu sebagai persoalan keamanan belaka. Konflik sosial bagi sosiologi adalah pasar bagi ekonomi. Identitas sosial yang beragam di Indonesia mesti dapat memberikan kesiapan kita yang lebih kuat dalam menghadapi tren globalisasi yang, bagaimanapun, harus mendukung keterbukaan dan kesiapan me-maintain perbedaan. Perbedaan cara pandang merupakan energi progresivitas. Bahkan sains saat ini berkembang dalam tataran inter-disipliner. Kelima, modernitas telah membawa kita pada momentum di mana modernisme ternyata meninggalkan begitu banyak ekses dan persoalan sosial ekologis. Kehidupan modern mesti membuka diri pada bentuk kecerdasan yang lahir melalui sifat heuristik dalam kecerdasan kolektif kita. Sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang tinggi, kita mesti mampu menjadi agen-agen kemanusiaan yang memadukan apa yang organis-tradisional dengan yang modern-konvensional sebagai kekuatan cendekia yang inspiratif bagi kemanusiaan. Ini yang disebut sebagai agenda "TeknoBudaya". Tugasnya adalah menjadikan warisan budaya beratus, bahkan beribu tahun, menjadi mutakhir, canggih, dan menjadi penyedia cara pandang alternatif menghadapi persoalan sosial dan ekologis kita. Keenam, ketika diversitas yang berkolaborasi menjadi kosa kata kunci, maka manajeman dan visi kita mesti diarahkan pada bagaimana interaksi menjadi semakin tinggi antar entitas warga. Secara praktis, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan memandang kenyataan geografis kita. Dari sisi infrastruktur, cara pandang kita mestilah ekspansif, berorientasi keluar, dan berinteraksi. Orang-orang pada masa dulu disebut-sebut memiliki visi "maritim" jika memiliki wawasan serupa itu. Wawasan kemaritiman bukanlah sekadar eksploitasi bahari, namun bervisi keluar dan menantang ketakpastian melalui interaksi dan kolaborasi. Dari sisi suprastruktur, generasi kita adalah generasi yang beruntung karena kita hidup di era informasi. Koneksitas antar kelompok, komunitas, dan identitas kolektif mesti ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi informasi ini. Dua hal ini merupakan implementasi nyata dalam memandang kecerahan fajar 2013. Ketujuh, kesadaran akan kompleksitas telah menempatkan sains yang makin interdisiplin, mendorong kolaborasi dan penerapan metode ilmiah sebagai upaya ekstraksi informasi dari data-data. Ini adalah "pucuk dicinta ulam pun tiba" dengan era informasi yang kita rayakan hari ini dan beberapa waktu ke depan. Pencerdasan hinggal level terkecil dari masyarakat Indonesia, yaitu desa, adalah agenda mendesak tahun ini menuju waktu-waktu ke depan yang penuh akan kebuntuan ketakpastian. Sebagai hardcopy, lembar-lembaran outlook ini terbit sebagai kalender sains kompleksitas. Di samping infografi, kalender tersebut juga menampilkan tanggal-tanggal penting dan bersejarah terkait perkembangan sains kompleksitas. Anda diperkenankan untuk men-download di sini dan bisa mencetaknya sendiri untuk keperluan non-komersial, atau dapat pula menghubungi Bandung Fe Institute [e-mail ke: bfi@bandungfe.net, atau twitter: @bandungfe], jika ingin memperolehnya langsung dengan mengganti sejumlah uang pengganti cetak. Demikianlah Outlook ini dibuat bukan untuk lama dibaca, namun untuk lama menemani kita dalam mengarungi ketakpastian dan kompleksitas kenyataan kita sehari-hari. |
:: update terakhir: Januari 2012